Rabu, 21 September 2011

JIKA HARUS MEMILIH


JIKA HARUS MEMILIH
“Benang itu tak sebangsa dengan sutera, karena itu jangan bermimpi mendapatkan dia”, begitu kira-kira sebuah petikan dialog dalam film Di Bawah Lindungan Ka’bah yang tempo hari sempat saya saksikan bersama salah seorang teman. Kalimat tersebut muncul dari bibir seorang ibu yang sedang memberikan nasehat pada anaknya supaya melupakan gadis pujaannya yang nota bene adalah seorang putri dari majikan ibunya sendiri. Bagi sang ibu, mustahil cinta dipersatukan bila antara pecinta dan yang dicinta memiliki perbedaan status sosial atau kasta. Ringkasnya, orang melarat dilarang bercinta dengan konglomerat atau rakyat jelata ‘haram’ memadu kasih dengan putri raja. Percintaan semacam itu dianggap percintaan tabu yang harus segera ditinggalkan. Seharusnya putri konglomerat yang berdarah biru bercinta dan bersatu dengan putra yang juga memiliki darah biru bukan dengan putra gembel yang berdarah merah bahkan ‘berdarah kotor’. Sebaliknya, putra gembel seharusnya bercinta dan bersatu dengan putri yang berstatus gembel juga.
            Dewasa ini, anggapan demikian masih terpelihara subur. Terbukti masih banyak dijumpai kasus-kasus percintaan yang berujung tragis lantaran perbedaan kasta ini. Tak jarang ditemukan seorang putri konglomerat yang dilarang menikah dengan kekasih dambaannya yang hanya rakyat jelata. Nasab dan kekayaan seakan menjadi pertimbangan utama dalam pernikahan.
Dalam sebuah hadis yang sempat saya dengar memang dinyatakan bahwa wanita itu dinikahi dengan beberapa pertimbangan, di antaranya adalah pertimbangan kekayaan, kecantikan, keturunan (nasab) dan agama. Ketetapan ini tentu juga berlaku pada seorang perempuan yang hendak menikah dengan seorang laki-laki. Karena itu, pertimbangan-pertimbangan tersebut sebaiknya selalu diindahkan. Namun, yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa pertimbangan status sosial atau kasta bukanlah pertimbangan utama dalam memilih pendamping hidup. Islam justru lebih mengutamakan aspek agama dari pasangan yang ingin dinikahi. Dalam hadis tersebut Nabi pun secara tersurat menyatakan “Fadzfar bi dzat ad-Din” yang menegaskan akan pentingnya aspek agama.
Tak dipungkiri memang, bahwa pendamping hidup ideal adalah ia yang memiliki kriteria-kriteria di atas yang ditinjau dari ‘sudut pandang’ mana pun akan terlihat baik. Dari sudut kekayaan misalnya, ia memiliki harta melimpah yang tak habis dimakan tujuh turunan. Dari sudut kecantikan, ia memiliki paras elok bak bidadari yang karena kesempurnaannya membuat sang rembulan malu lantaran keindahannya terkalahkan. Dari sudut nasab, ia mempunyai garis keturunan yang baik, seorang putri bangsawan yang mempunyai kedudukan tinggi. Setiap orang akan berjalan membungkuk bahkan bila perlu merangkak dihadapanya akibat keluhuran pangkat yang dimilikinya. Dari sudut agama, ia memiliki kualitas keimanan dan ketakwaan yang begitu luar biasa. Karena derajat keshalehannya itu, ia hampir mendekati derajat wali. Tentu, bukan wali santri, wali walidayya apalagi wali murid. Namun sayangnya, di era kontemporer saat ini, saya rasa sangat sulit -untuk tidak mengatakan mustahil- menemukan pendamping hidup sempurna seperti yang tergambarkan di atas. Justru yang kerapkali banyak ditemui adalah gadis itu cantik tapi tak kaya atau perempuan itu berparas biasa-biasa saja yang bila dipaksakan dalam bentuk nilai, perempuan itu mendapat nilai 70 tetapi ia kaya. Ada yang sangat shalihah, namun dari segi paras ia mendapat nilai 50, bahkan ada juga yang berparas sangat elok yang nilainya mendekati angka 100 tetapi ia sangat hina, tak mempunyai garis nasab luhur. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal ini wajar sebagai fitrah manusia yang dicipta Tuhan dengan berbagai macam kelebihan dan kekurangan. Serba susah memang, tetapi kita harus tetap memilih. Memilih yang baik di antara yang tak baik atau memilih yang terbaik di antara yang baik. Itu pun jika kita bisa memilih, persoalannya kemudian adalah jika kita tak bisa ‘memilih’, maka satu-satunya yang ada itu ya ‘terpaksa’ kita ambil atau akan sangat lucu bila bisa memilih, akan tetapi yang dipilih tak mau dipilih. Kalau sudah begitu, seseorang harus tetap memilih dan memilih sampai menemukan pilihan yang mau dipilih. Yang terpenting adalah tetap menjadikan keshalehan beragama sebagai pertimbangan utama dalam memilih. Akhirnya, selamat memilih...!! (wallahu A’lam)
           
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar